20 April 2016
Hari ini tak sengaja aku melihat sesuatu yang menyayat hatiku
Foto dimana kau mengucapkan seperti kata-kata yang aku ucapkan lewat video itu.
Entah mengapa rasanya sedikit lega tetapi bagiku ini sangat menyakitkan.
Aku teringat, tepat sebulan yang lalu. Kita masih di sini.
Saling mengucapkan rasa sayang dengan ocehan yang bodoh itu.
Konyolnya dibulan ini bukan aku yang membuatmu tertawa.
Bukan lagi yang membuatku merindukan sosok wanita yang menyebalkan.
Aku hanya berpikir sekarang, begitu cepat waktu berlalu.
Sungguh aku sangat merindukan saat saat itu, iya disaat kau mengucapkan.
Mengucapkan kata-kata rindu yang begitu mendalam. Salahkah aku?
Atau mungkin hanya aku yang terlalu begitu menyayangimu.
Aku rasa aku selalu berkata jujur walau terkadang tidak.
Aku percaya bahwa kau tak ingin menyakitiku lebih dalam lagi bukan?
Saat-saat itu kau hanya menghindari agar aku bisa terbiasa dengan rasa sakit ini.
Sungguh ajaib, Tuhan mempunyai cara yang unik.
Nyatanya pertemuan kita hanyalah sekedar pertemuan, bukan untuk mempersatukan.
Hihihihi lucu sekali, tetapi menyakitkan sekali. Aku tak pandai untuk merangkai kata.
Oleh sebab itu, ajarkan aku untuk merangkai kata agar kau mengerti pedihnya rasa ini.
Maukah engkau merasakan rasa sakit ketika sedang mempercayai seseorang?
Sering kali aku berpikir, meskipun begitu, masih bisakah aku merindukan sosok dirimu.
Sosok yang selalu menemaniku dengan menghibur dengan kata-kata yang bodoh,
Sampai kata-kata itu bisa membodohi hatiku, munafikkah aku? Egoiskah aku?
Mungkin sangat berat, tetapi aku percaya ini perlahan tetapi pasti. Tunggu aku.
Menunggu untuk aku bisa ke tempat sepertimu, tempat dimana rasa ini telah hilang.
Aku percaya kamu, begitupun kamu mungkin. Yang aku inginkan jangan pernah
kau mengecewakan perempuan lagi, Cukup aku saja. Karena aku tau.
Merindukan seseorang yang jauh sangatlah menyakitkan. Sungguh sulit.
Oleh karena itu, aku berterima kasih karena kau telah mengirim rasa sakit ini.
Rasa sakit ini mengajarkanku agar aku bersabar. Lebih baik dari itu.
Air mata ini yang membasahi pipiku seolah memaksaku untuk merelakanmu.
Aku harap rasa ini tersampaikan kepadamu, rasa rindu dan kecewa ini.
Kekasih lamaku..
Selasa, 19 April 2016
Minggu, 10 April 2016
Aku Sayang Padamu
Awan dan langit jalanan di mana hari itu begitu mendung,
Menjadi saksi bisu betapa indahnya hari ini ketika aku bersamamu,
Matamu yang indah itu seolah ada pelangi yang tersimpan keindahanya.
Iya, di sana. Masih tertata rapi dipikiranku. Saat aku menatap mata itu.
Semua terasa begitu indah dan berlalu sangat cepat bukan? Lucu memang.
Logika konyol sekali aku selalu percaya akan setiap kata yang kamu ucap.
Seperti yang kau katakan, aku memang terlalu payah dan bodoh tentunya.
Bahkan dalam hal menyayangimupun aku harus rela untuk semua ini.
Terjatuh dan bangun lalu dan selalu seperti itu seolah kau selalu begitu.
Setiap nada-nada indah lagu yang aku sukai seolah aku merasakan dirimu.
Dirimu di sampingku dan oleh harapan dan kepercayaan bodoh dan konyol.
Aku benci harus jujur padamu tentang semua ini sungguh.
Ingin aku memaki kepada diriku sendiri ketika aku bersamamu.
Mengapa aku begitu bodoh untuk mencintai dan mempercayai dirimu.
Seakan terus memaksa hati ini tuk pergi tetapi menahan untuk di sini.
Tetesan air mata ini selalu mengalir di kedua pipiku ini.
Terkadang pula aku menahan dendam yang memaksaku.
Memaksa untuk membencimu dan berharap kau akan merasakan apa ini.
Aku hanya ingin bertanya apa alasanmu melakukan hal itu lagi bukan?
Kau berkata bahwa takut untuk menyakitiku terlalu dalam. Namun saja.
Bagiku ini sangat sakit. Merelakan seseorang yang aku inginkan di sini.
Hanya saja aku harus membedakan antara masa lalu dan masa kini.
Bahwa perbedaan kita yang memaksa kita tuk berhenti saja sampai di sini.
Ku akui ini memang sedikit menggelikan bagimu, ya memang aku bodoh.
Terima kasih atas tetesan air mata yang selalu kau kirim lewat hati ini.
Yang bagiku ini sangat menyayat hati, memaafkan kesalahan itu kembali.
Ini bukan salahku, salahmu, ataupun Tuhan. Tuhan tau yang terbaik.
Begitu juga caraku mencintaimu, sangat manis dan menggelikan bukan?
Tertapi, lewat air mata ini seolah aku meluapkan rasa dendamku ini.
Lalu aku merelakanmu perlahan, Aku sayang padamu (mantan)kekasihku.
Langganan:
Postingan (Atom)