Dear Kevin,
Sesuatu yang aku kira telah hilang.
Sesuatu yang aku kira bisa membuatku melangkah maju.
Ternyata hanya bayangan semu saja selama ini.
Kembali teringat luka lama, yang mati-matian aku kubur karenamu.
Aku tersadar bahwa aku lari dari kenyataan bahwa aku masih sayang kamu.
Seperti marmut merah jambu yang seolah berjalan jauh, tapi dia tetap disitu,
Mengapa aku selalu lari bahwa kenyataannya aku masih ingin kamu disini.
Aku belum siap untuk jatuh ke dua kalinya, tidak.. tetapi ke tiga kalinya.
Aku susah yakin bahwa kau hanyalah bayangan masalaluku yang dulu.
Telah aku coba untuk mencari-cari rasa itu, tetapi... aku ragu.
Aku ragu untuk jatuh cinta lagi, lalu patah hati lagi. Aku belum siap,
Maafkan kekurangan aku yang membuat kamu tidak setia.
Maafkan aku terlalu sayang kamu,vin.
Semudah itu kamu biarkan seolah kita baik-baik saja.
Seolah kita tak pernah pada cerita yang sama.
Hati yang sama. Doa yang sama. Setega itukah kamu?
Aku hanya ingin tau kenapa kamu lakukan itu
Jarak
Senin, 01 Agustus 2016
Selasa, 19 April 2016
Secepat itu
20 April 2016
Hari ini tak sengaja aku melihat sesuatu yang menyayat hatiku
Foto dimana kau mengucapkan seperti kata-kata yang aku ucapkan lewat video itu.
Entah mengapa rasanya sedikit lega tetapi bagiku ini sangat menyakitkan.
Aku teringat, tepat sebulan yang lalu. Kita masih di sini.
Saling mengucapkan rasa sayang dengan ocehan yang bodoh itu.
Konyolnya dibulan ini bukan aku yang membuatmu tertawa.
Bukan lagi yang membuatku merindukan sosok wanita yang menyebalkan.
Aku hanya berpikir sekarang, begitu cepat waktu berlalu.
Sungguh aku sangat merindukan saat saat itu, iya disaat kau mengucapkan.
Mengucapkan kata-kata rindu yang begitu mendalam. Salahkah aku?
Atau mungkin hanya aku yang terlalu begitu menyayangimu.
Aku rasa aku selalu berkata jujur walau terkadang tidak.
Aku percaya bahwa kau tak ingin menyakitiku lebih dalam lagi bukan?
Saat-saat itu kau hanya menghindari agar aku bisa terbiasa dengan rasa sakit ini.
Sungguh ajaib, Tuhan mempunyai cara yang unik.
Nyatanya pertemuan kita hanyalah sekedar pertemuan, bukan untuk mempersatukan.
Hihihihi lucu sekali, tetapi menyakitkan sekali. Aku tak pandai untuk merangkai kata.
Oleh sebab itu, ajarkan aku untuk merangkai kata agar kau mengerti pedihnya rasa ini.
Maukah engkau merasakan rasa sakit ketika sedang mempercayai seseorang?
Sering kali aku berpikir, meskipun begitu, masih bisakah aku merindukan sosok dirimu.
Sosok yang selalu menemaniku dengan menghibur dengan kata-kata yang bodoh,
Sampai kata-kata itu bisa membodohi hatiku, munafikkah aku? Egoiskah aku?
Mungkin sangat berat, tetapi aku percaya ini perlahan tetapi pasti. Tunggu aku.
Menunggu untuk aku bisa ke tempat sepertimu, tempat dimana rasa ini telah hilang.
Aku percaya kamu, begitupun kamu mungkin. Yang aku inginkan jangan pernah
kau mengecewakan perempuan lagi, Cukup aku saja. Karena aku tau.
Merindukan seseorang yang jauh sangatlah menyakitkan. Sungguh sulit.
Oleh karena itu, aku berterima kasih karena kau telah mengirim rasa sakit ini.
Rasa sakit ini mengajarkanku agar aku bersabar. Lebih baik dari itu.
Air mata ini yang membasahi pipiku seolah memaksaku untuk merelakanmu.
Aku harap rasa ini tersampaikan kepadamu, rasa rindu dan kecewa ini.
Kekasih lamaku..
Hari ini tak sengaja aku melihat sesuatu yang menyayat hatiku
Foto dimana kau mengucapkan seperti kata-kata yang aku ucapkan lewat video itu.
Entah mengapa rasanya sedikit lega tetapi bagiku ini sangat menyakitkan.
Aku teringat, tepat sebulan yang lalu. Kita masih di sini.
Saling mengucapkan rasa sayang dengan ocehan yang bodoh itu.
Konyolnya dibulan ini bukan aku yang membuatmu tertawa.
Bukan lagi yang membuatku merindukan sosok wanita yang menyebalkan.
Aku hanya berpikir sekarang, begitu cepat waktu berlalu.
Sungguh aku sangat merindukan saat saat itu, iya disaat kau mengucapkan.
Mengucapkan kata-kata rindu yang begitu mendalam. Salahkah aku?
Atau mungkin hanya aku yang terlalu begitu menyayangimu.
Aku rasa aku selalu berkata jujur walau terkadang tidak.
Aku percaya bahwa kau tak ingin menyakitiku lebih dalam lagi bukan?
Saat-saat itu kau hanya menghindari agar aku bisa terbiasa dengan rasa sakit ini.
Sungguh ajaib, Tuhan mempunyai cara yang unik.
Nyatanya pertemuan kita hanyalah sekedar pertemuan, bukan untuk mempersatukan.
Hihihihi lucu sekali, tetapi menyakitkan sekali. Aku tak pandai untuk merangkai kata.
Oleh sebab itu, ajarkan aku untuk merangkai kata agar kau mengerti pedihnya rasa ini.
Maukah engkau merasakan rasa sakit ketika sedang mempercayai seseorang?
Sering kali aku berpikir, meskipun begitu, masih bisakah aku merindukan sosok dirimu.
Sosok yang selalu menemaniku dengan menghibur dengan kata-kata yang bodoh,
Sampai kata-kata itu bisa membodohi hatiku, munafikkah aku? Egoiskah aku?
Mungkin sangat berat, tetapi aku percaya ini perlahan tetapi pasti. Tunggu aku.
Menunggu untuk aku bisa ke tempat sepertimu, tempat dimana rasa ini telah hilang.
Aku percaya kamu, begitupun kamu mungkin. Yang aku inginkan jangan pernah
kau mengecewakan perempuan lagi, Cukup aku saja. Karena aku tau.
Merindukan seseorang yang jauh sangatlah menyakitkan. Sungguh sulit.
Oleh karena itu, aku berterima kasih karena kau telah mengirim rasa sakit ini.
Rasa sakit ini mengajarkanku agar aku bersabar. Lebih baik dari itu.
Air mata ini yang membasahi pipiku seolah memaksaku untuk merelakanmu.
Aku harap rasa ini tersampaikan kepadamu, rasa rindu dan kecewa ini.
Kekasih lamaku..
Minggu, 10 April 2016
Aku Sayang Padamu
Awan dan langit jalanan di mana hari itu begitu mendung,
Menjadi saksi bisu betapa indahnya hari ini ketika aku bersamamu,
Matamu yang indah itu seolah ada pelangi yang tersimpan keindahanya.
Iya, di sana. Masih tertata rapi dipikiranku. Saat aku menatap mata itu.
Semua terasa begitu indah dan berlalu sangat cepat bukan? Lucu memang.
Logika konyol sekali aku selalu percaya akan setiap kata yang kamu ucap.
Seperti yang kau katakan, aku memang terlalu payah dan bodoh tentunya.
Bahkan dalam hal menyayangimupun aku harus rela untuk semua ini.
Terjatuh dan bangun lalu dan selalu seperti itu seolah kau selalu begitu.
Setiap nada-nada indah lagu yang aku sukai seolah aku merasakan dirimu.
Dirimu di sampingku dan oleh harapan dan kepercayaan bodoh dan konyol.
Aku benci harus jujur padamu tentang semua ini sungguh.
Ingin aku memaki kepada diriku sendiri ketika aku bersamamu.
Mengapa aku begitu bodoh untuk mencintai dan mempercayai dirimu.
Seakan terus memaksa hati ini tuk pergi tetapi menahan untuk di sini.
Tetesan air mata ini selalu mengalir di kedua pipiku ini.
Terkadang pula aku menahan dendam yang memaksaku.
Memaksa untuk membencimu dan berharap kau akan merasakan apa ini.
Aku hanya ingin bertanya apa alasanmu melakukan hal itu lagi bukan?
Kau berkata bahwa takut untuk menyakitiku terlalu dalam. Namun saja.
Bagiku ini sangat sakit. Merelakan seseorang yang aku inginkan di sini.
Hanya saja aku harus membedakan antara masa lalu dan masa kini.
Bahwa perbedaan kita yang memaksa kita tuk berhenti saja sampai di sini.
Ku akui ini memang sedikit menggelikan bagimu, ya memang aku bodoh.
Terima kasih atas tetesan air mata yang selalu kau kirim lewat hati ini.
Yang bagiku ini sangat menyayat hati, memaafkan kesalahan itu kembali.
Ini bukan salahku, salahmu, ataupun Tuhan. Tuhan tau yang terbaik.
Begitu juga caraku mencintaimu, sangat manis dan menggelikan bukan?
Tertapi, lewat air mata ini seolah aku meluapkan rasa dendamku ini.
Lalu aku merelakanmu perlahan, Aku sayang padamu (mantan)kekasihku.
Kamis, 31 Maret 2016
Ingatkah?
Dear Kevin,
Dulu, kita memang tak sengaja bertemu melalui gelombang itu.
Awalnya aku hanya menyangka semua akan baik-baik saja.
Kita konyol sekali bukan? Mencintai tanpa pernah bertemu. Logika konyol sekali.
Taukah kamu? aku dulu memang menyebalkan dan masih sama seperti ini.
Selalu membuatmu bosan, faktanya tak ada yang menarik bagiku.
Seolah perasaan ini muncul dan membawa kita pada suatu perasaan.
Disaat aku mulai memercayai bahwa kamu akan mengubahnya, karena aku pernah hubungan jarak ini.
Dulu, disaat aku mencoba cantik dihadapanmu rasanya aku merasa bahwa aku wanita paling beruntung.
Ingatkah kamu? Ketika kamu bosan, kamu selalu berbohong kepadaku.
Bukankah rasa bosan wajar dalam sebuah hubungan?
Apakah aku harus selalu sabar?
Pada akhirnyapun perjuanganku sia-sia. Kamu berkata seperti itu.
Kita berpisah seolah tak tau tujuan.
Cantik? Ya! aku bukan wanita cantik. Bahkan perilaku aku pun masih seperti lelaki.
Tak pantas bagi sosok lelaki seperti dirimu. Bagiku denganmu saja itu terasa cukup.
Memaafkanmu itu sudah menjadi makanan pokokku, apalagi memperjuangan dan bersabar ketika bersamamu. Itu membuatku semakin kuat walaupun nyatanya kau ternyata sama saja dengan lelaki yang menyakitiku seperti dulu. Tp kali ini aku terlalu banyak menaruh hati padamu. Yaaa.. dan akhirnya semuanya berlalu.
Tepat tahun baru ini, kita kembali dekat. Seolah kita masih merasa seperti itu. Ketika kau melontarkan kata-kata itu, memang biasa saja. Tapi itu yang paling aku rindukan. Ocehanmu yang membuat aku semakin rindu kehadiranmu.
8 Februari, tepat kita bertemu untuk pertama kalinya.
Dalam hatiku aku merasa tak percaya diri. Tetapi ketika aku melihatmu, sungguh aku tak percaya bahwa pria di depanku adalah lelaki yang pernah menyakitiku. Aneh, rasanya begitu nyaman.
Dan akhirnya aku memegang tangan itu, menatap mata itu, dan berkata maaf. Mengapa? Entahlah (?)
Rasa ini terasa biasa ketika kala itu.
Tetapi semenjak kau selalu menghubungiku aku merasa bahwa argumenku yang pertama salah bahwa kau takkan berubah, akhirnya aku mencoba membuka hatiku untukmu lagi. Semakin hari selalu ada pertentangan antara kita. Seolah semua terjadi begitu deras layaknya sebuah sungai. Terlalu dalam, terlalu gelap, dan terlalu menyakitkan. Aku berusaha untuk dirimu, membuat suprize ketika ulangtahunmu nyatanya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan, kau hanya berkata terima kasih tanpa menghargai betapa sakitnya aku membuat itu. Aku hanya menjadi moodbrakermu saya bukan? Padahal aku rindu yang lampau, yang kini tak bisa aku jangkau, Terlalu jauh. Ketika kamu bersama dengan temanmu, aku bisa memahaminya. Tetapi rasa khawatir itu selalu muncul ketika perbincangan kita hanya menjadi sebuah pajangan semata.
Aku berusaha tp sia-sia, aku diam saja pun sia-sia apalagi jika aku mundur?
Jika aku bisa memilih aku tak akan membiarkan rasa ini. Terlalu sakit. Bisa kah aku memaafkanmu lagi? Bisakah kau belajar dr kesalahanmu? Bisakah kau pergi saja dr hati ini?
Aku bukan lelah. Aku hanya tau perjuanganku selama ini sia-sia.
Pantaskah wanita seperti ini(?)
Aku rasa aku terlalu bodoh, itu bukan yang kau tau(?)
Maaf aku hanya wanita aneh, jelek, bodoh, tak pernah peduli, tak pernah mau mengerti, membiarkan kamu menyakitiku sekian kalinya, dan memperlakukanmu layaknya kau memilikiku. Nyatanya aku bukan siapa-siapa. Maaf.
Tetapi, terima kasih atas luka yang kau beri. Aku senang. Terima kasih untuk selalu mendengar ceritaku, menelponku,videocall bersama, dan menjaga hatiku lalu mematahkannya. Aku belajar dari sekarang, belajar dari kesalahanku. Agar aku tidak masuk kelubang yang sama lagi. Terima Kasih.
- Freak, Stevani.
Langganan:
Postingan (Atom)


